Minggu, 11 Mei 2014

Sang Patriot: Ada Yang Membuat Perjuangan Itu Begitu Ikhlas

Soekarno berpesan untuk bangsanya, "Jas Merah (Jangan sesekali melupakan sejarah)". Dengan mempelajari sejarah, berarti kita telah menolak untuk melupakan sejarah. Banyak yang dapat dipelajari dari sebuah sejarah.

Novel Sang Patriot mengisahkan sejarah Letkol Mochammad Sroedji yang berjuang untuk cintanya. Cinta pada tanah airnya Indonesia dan cinta sejatinya Rukhmini. Novel yang ditulis Irma Devita, seorang praktisi hukum ini mengajarkan bahwa cinta mampu membuat seseorang berjuang dengan keikhlasan.

Sejarah ini dimulai pada 1 Februari 1915 di Bangkalan Madura. Sang Patriot lahir dari cinta Hasan dan Amni, Lmenjadi anak ke dua dari tujuh bersaudara. Kediri dan Malang menjadi saksi Sang Patriot tumbuh menjadi seorang yang berpendidikan. Sejak Belanda menjajah, pendidikan menjadi suatu kemewahan.Letkol Mochammad Sroedji mengenyam pendidikan di sebuah sekolah ongko loro, sekolah untuk rakyat jelata. Demi cita-citanya menjadi tentara, Letkol Mochammad Sroedji ingin melanjutkan sekolah di kelas 1, sekolah khusus priyayi dan golongan Eropa, Hollands Indishe School (HIS). Disaat Hasan menginginkan keluarganya naik haji, Amni mencari kakak iparnya untuk mengabulkan cita-cita anaknya. Pusponegoro menjadi jembatan Letkol Mochammad Sroedji dengan HIS.

Kota Malang juga mempertemukan Sang Patriot dengan cinta sejatinya. Berawal dari pertemuan yang telah dirahasiakan Letkol Mochammad Sroedji. Hingga perjodohan yang telah direncanakan tanpa sepengetahuan Rukmini, bahwa calon suaminya adalah lelaki yang mencuri perhatiannya di pasar. Keinginan mendapat gelar Meester in de Reehten dilepaskan Rukhmini, demi kebahagiaan tinggal di Jember menjadi istri Mantri Malaria Rumah Sakit Umum Kreongan.

Osamu Sarei (Dekrit)No 44 Tahun 1943 membuka jalan cina-cita Sroedji sebagai tentara. Pembela Tanah Air (PETA), sebuah pelatihan militer di Bogor untuk bumi putra sebagai propaganda Jepang yang meyakinkan Jepang datang menjadi saudara negara terjajah. Sroedji mendapat pangkat chuudanchoo.

Setelah menerima pangkat, Letkol Mochammad Sroedji kembali ke Jember. Propaganda Jepang telah terbongkar. Badan Keamanan Rakyat (BKR) dibentuk untuk melindungi rakyat dari Jepang. BKR diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 oktober 1945, dengan Letkol Mochammad Sroedji sebagai komandan batalion.

Bukan hanya menjaga Jember. Letkol Mochammad Sroedji dan pasukannya ikut mempertahankan Kota Surabaya dari Inggris. Penembakan AWS Mallaby dan tewasnya Robert Guy Loder Sy Monds DSO. MC membuat Inggris mengeluarkan ultimatum akan meluluh lantahkan Surabaya. Banyak pertumpahan darah pada 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai hari pahlawan.

Letkol Mochammad Sroedji harus terus berjuang. Startegi, hijrah dan pertempuran menjadi teman. Letkol Mochammad Sroedji membuat strategi, mengawal hijrah, dan memimpin pertempuran. Bukan hanya Letkol Mochammad Sroedji yang harus terus berhijrah, namun  demi keamanan Rukhmini dan anak-anaknya, merekapun harus berhijrah. Hijrah yang penuh perjuangan, tanpa alas kaki, tanpa makanan mewah, dan tanpa istirahat cukup. Malam dan luka lecet menjadi karib. 

Ditengah perjuangan,  loyalitas dipertaruhkan, pilihan antara uang dan hidup dari penghianatan atau mati sebagai pejuang.  Beberapa bumi putra rela menjadi pengkhianat untuk memilih uang dan hidup. Strategi tercuri. Sang Patriot dan pasukannya gugur dengan sahid saat melawan Belanda di Jember. Jember dan Indonesia meluruhkan air mata.

Sang Patiot memang telah gugur, namun tidak semangat rakyat Jember. Gugurnya Sang Patrior membakar amarah dan semangat urakyat ntuk melanjutkan perjuangan Letkol Mochammad Sroedji. Belanda pergi dari tanah air Indonesia.

Indonesia benar merdeka dari penjajahan, namun cinta sejatinya terus berjuang. Setelah ikut berjuang dalam doa, penantian Rukhmini berakhir duka karena gugurnya Letkol Mochammad Sroedji. Sebagai seorang wanita, Rukhmini menginginkan Letkol Mochammad Sroedji menjadi seorang suami yang selalu ada untuk keluarganya. Namun Rukhmini tahu betul betapa tanah airnya lebih membutuhkan suaminya sebagai seorang patriot. Cinta sejati mereka mengikhlaskan terpisah jarak hingga waktu. Gugurnya Letkol Mochammad Sroedji tidak pernah menggugurkan cinta Rukhmini untuk patriotnya. Rukhmini harus terus berjuang untuk anak-anak sang patriot.


http://letkolmochsroedji.org/



1 komentar: