Kamis, 18 September 2014

Tidak Ada yang Kalah dengan Ngalah



Apa kalian pernah merasa gengsi untuk mengalah? Aku pernah. Aku masih muda, emosiku masih sering tidak terkontrol. Kata mengalah masih menjadi sesuatu yang mewah. Mengalah itu berarti memberi kemenangan untuk orang yang dihadapi. Pikiran seperti itu muncul ketika tidak bisa mengontrol emosi. Ah, dasar anak muda.

Padahal, aku adalah orang Jawa. Aku tahu pepatah Jawa tentang, “Wani ngalah, luhur wekasane.”
Pepatah itu artinya berani mengalah, baik untuk kepentingan bersama. Nah, mengalah memang butuh keberanian. Berani membuang si gengsi, berani menghapus pikiran tentang mengalah berarti kalah dan berani memberi kemenangan untuk lawan, kawan, dan tentu diri sendiri.

Kok berani memberi kemenangan untuk lawan, kawan, dan diri sendiri? Kenapa tidak hanya untuk diri sendiri? Karena mengalah itu ternyata baik untuk kepentingan bersama.

Kalau ada yang tidak percaya, aku pernah diajarkan mengalah oleh dosenku. Aku masih muda, jadi harus banyak belajar. Termasuk belajar mengalah.

Perhatiakan! Aku akan ceritakan, cerita yang sedikit menegangkan. Suda aku katakan, kenapa mengalah itu butuh keberanian karena keputusan untuk mengalah atau tidaknya selalu ada pada situasi yang menegangkan.
Aku masih ingat, hari itu hari Selasa. Selasa yang selalu sibuk seperti Selasa-selasa biasanya, namun ditambah Selasa yang manis. Aku dan dosenku sedang dalam perjalanan pulang ketika menikmati Selasa sore yang manis itu. Matahari sudah di ufuk barat, buru-buru ingin tenggelam. Warna matahari yang jingga menyemburat kelangit, itu sangat manis. Pemandangan ini cukup untuk meleburkan rasa lelah kami setelah selama siang berada di desa tempat kami sebagai warga Universitas Jember mengabdi pada masyarakat.

Aku rasa kami pulang di jam pulang kerja, sehingga jalanan cukup ramai. Bukan hanya matahari yang ingin cepat pulang, kami juga ingin cepat sampai di rumah. Beberapakali mobil kami disalip oleh pengendara lain. Ternyata bukan hanya matahari dan kami yang ingin cepat pulang, tapi juga pengendara lain. Kadang klakson pengendara yang ingin menyalip bisa menyulut emosi.

“Kalau mereka buru-buru, kenapa nggak berangkat kemarin ya, Pak?” Candaku mengusir rasa kesal.

Tak terasa suara adzan Magrib sudah dikumandangkan. Kami harus segera mencari masjid. Langit juga sudah mulai gelap. Lampu mobil harus dinyalakan untuk memperpanjang jarak pandang.

Jalanan yang kami lewati mulai dari perkebunan hingga persawahan yang tidak ada penerangannya, ditambah jalanan yang berlubang. Kami mulai menghentikan obrolan dan candaan. Ku serius menikam rasa takut. Pak dosen konsentrasi pada jarak pandang yang terbatas.

Ditengah ketakutan dan konsentrasi, ada pemuda tiba-tiba memecah keduanya. Pemuda dan sepeda motornya tiba-tiba menyeberang tanpa melihat kanan-jiri jalanan. Pak dosen harus menginjak remnya. Pak dosen berhasil menginjak remnya sehingga tidak sampai menabrak pemuda itu. Aku yakin Pak dosen sangat kesal, karena takut terjadi kecelakan. Pak dosen bukan hanya pengemudi mobil yang baik, tapi juga pengemudi emosi yang baik. Dia juga berhasil menginjak emosi, sehingga Pak dosen berhasil mengalah agar tidak tejadi kecelakaan.

“Kalau tadi saya mengikuti emosi dan tidak mau mengalah, pasti kita sudah menabrak orang itu, Fit.” Dosenku mengatakannya dengan sedikit bercanda, agar aku tidak semakin ketakutan.

Aku mendengar kembali kata mengalah. Pak dosen benar, kalau saja tidak ada yang mau mengalah dijalanan, pasti sudah banyak kecelakaan. Pak dosen mengalah, aku dan dosenku, serta pemuda tadi bisa selamat dari kecelakaan.

Yo opo, Rek, sek gengsi ngalah? Tidak ada yang salah kan dengan belajar berani memberi kemenangan untuk lawan, kawan, dan diri sendiri? Kita sama-sama jadi pemenang dengan mengalah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar