Minggu, 05 Juni 2016

Suara Masjid


Setiap kali aku melakukan perjalanan, aku selalu merasakan perbedaan khas suara masjid. Perbedaan itu mungkin pengaruh dari suara kaset, suara marbot masjid, atau pengeras suara. Yang jelas, pada waktu-waktu tertentu, suara masjid membawaku pada perasaan rindu. Jika aku berada di rumah, maka akan merindukan tempat-tempat jauh yang pernah ku kunjungi. Jika aku sedang berada di antah-brantah, maka aku akan merindukan rumah. Dan itu perasaan rindu yang paling sulit ku jelaskan.
 
Aku dan Mbakku
Suara masjid ketika ramadhan membawaku mengenang ramadhan tiga tahun yang lalu. Ramadhan yang sulit untuk keluargaku, mbakku khususnya. Suaminya meninggal diusia pernikahan mereka baru lima tahun. Aku menemaninya selama bulan puasa agar mbakku tidak merasa sendiri ketika pulang ke kosan. Agar mbakku tidak sakit. Kata Pram, orang yang hanya melihat penderitaan adalah orang sakit.

Kami terawih bersama. Di belakang kosan, melewati gang-gang sempit terdapat masjid besar di pinggir jalan. Masjid yang beberapa titik memilliki keramik berwarna hijau, warna kesukaan nabi Muhammad. Suara tarhim dan adzan yang begitu melekat diingatanku.

Waktu terus berjalan, keikhlasan menerima keadaan membuast luka segera mengering. Sisa-sisa luka memang kadang masih terasa, dan menjadikan kami tampak lebih kuat. 

Aku mendengar suara masjid, rindu akan kenangan-kenangan selalu bermunculan. Kenangan bahagia dan duka-cita membawa pelajaran masing-masing. Suara masjid yang selalu membawa rindu, rindu yang akhirnya ku terjemahkan untuk Allah.






 210 kata 


2 komentar:

  1. kalo saya seneng mendengar suara mengaji dari masjid dgn murotal :)

    BalasHapus
  2. Saya sudah datang ke sini dan membaca tulisan ini
    Terima kasih telah berkenan untuk ikut meramaikan Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid di blog saya
    Semoga sukses.

    Salam saya

    BalasHapus