Thursday, July 16, 2020

Melawan Setan Bermata Runcing

Direview oleh: Ananda Firman Jauhari


Buku Melawan Setan Bermata Runcing  berhasil diterbitkan di tahun 2019 kemarin. Buku ini ditulis oleh para pendiri dan volunter Sokola. Setelah pelucuran perdananya,  para penulis buku ini kemudian melakukan perjalanan bedah buku dan diskusi dari Jakarta, Bandung, Semarang, Jogjakarta, Jember, Gianyar Bali, hingga ke Lombok Nusa Tenggara Barat.

Sepenting apa buku ini menurut Sokola Institute hingga bedah buku dan diskusi terkait buku ini dilakukan di mana-mana? Dari judulnya Buku Melawan Setan Bermata Runcing seperti sebuah novel horor. Membayangkan bagaimana wujud setan bermata runcing ini, bagaimana bisa enam orang menulis tentang setan bermata runcing secara bersamaan, apakah mereka punya pengalaman yang sama bertemu sosok setan ini.

Mengapa buku dengan judul aneh ini diterbitkan secara mandiri oleh Sokola Institute? Bukankah Sokola sendiri adalah lembaga pendidikan pada masyarakat adat dan masyarakat marjinal. Keterkaitan apakah Sokola dengan sosok setan ini? Apakah pengalaman mereka tinggal di dalam hutan bukit dua belas Jambi yang menyebabkan mereka bertemu setan bermata runcing ini, atau ketika menyebrang dan tinggal di pulau terpencil di Wailago, Flores? Apa juga mungkin ketika hidup bersama suku Kajang di Sulawesi? Apakah ketika di lereng Argopuro Jember? Apakah di Mamugu Batas batu di Suku Asmat? Pesisir Marisso Makassar? Hutan tempat suku Tayawi di Pedalaman Halmahera? Atau mungkin ketika membuat sekolah pasca bencana dimana-mana? Apakah mereka selalu diikuti setan dan harus melawan?

Buku Melawan Setan Bermata Runcing

Tuesday, July 14, 2020

Behind The Scene Novel Berjudul Bapak Mertua

Kalau kamu belum baca, bahkan belum tahu novel Bapak Mertua, itu wajar sekali. Karena itu memang novel pertamaku yang ku cetak tiga puluh eksemplar dan masih tersisa beberapa buku. Artinya dari tiga puluh bukuku, belum laku semua. Bayangkan, jadi berapa orang yang memabacanya?

Sudah jangan terlalu dipikirkan pertanyaanku baru saja. Biar aku ceritakan. Tapi cerita yang ada dibalik pembuatan novelnya.
Novel Bapak Mertua

Saturday, July 11, 2020

Cara Membuat Tempe Di Rumah

Di rumahku, tempe menjadi makanan yang hampir setiap hari ada persediaannya. Kami serumah, aku khususnya, suka sekali dengan tempe. Kalau tidak ada persediaannya di rumah, seperti ada yang kurang lengkap.

Tempe buatan rumah kami

Thursday, July 9, 2020

Tujuh Tanda Autism

Sejak kami membaca banyak artikel tentang autism, kami semakin melihat tanda-tanda anak autis ada pada anak pertama kami, Noam, yang waktu itu berusia hampir dua tahun.  Yayasan MPATI (Masyarakat Peduli Autis Indonesia) merangkum tujuh pertanyaan  untuk melihat tanda autis pada anak. 
Selama kami ajak ke pantai, baru kali ini dia tertarik dengan pantai.
Noam tertarik sekali di pantai, dulu dia takut.

Thursday, April 2, 2020

Noam Anakku, Autis


Oktober 2019 lalu, di ulang tahun ke dua Noam, aku dan suamiku membawanya ke psikolog anak. Dengan penuh kekhawatiran, dan kecurigaan bahwa Noam autis.

“Noam! Noam! Noam! Hai! Lihat! Itu apa ya? Noam!” Seperti inilah biasanya aku mencari perhatian Noam ketika dia sedang asyik bermain sendiri.

Naom tidak merespon, bahkan ketika sebuah benda aku  bawa kepadanya. Dia tetap lari-lari atau asyik memainkan roda mobil-mobilannya.  Aku menelan ludah, merasa ada persamaan ciri-ciri autis yang aku baca dari berbagai artikel.

Yayasan MPATI (Masyarakat Peduli Autis Indonesia) yang diketuai Gayatri Pamoedji, ibu dari seorang anak autis, memberikan tujuh pertanyaan untuk mengetes autis, “1. Apakah anak Anda memiliki ketertarikan pada anak-anak lain?, 2. Apakah anak Anda menunjuk hal yang disukai?, 3. Apakah anak Anda mau menatap mata Anda lebih dari 1-2 detik?, 4. Apakah anak Anda mau meniru ucapan, ekspresi wajah, ataupun gerak-gerik Anda?, 5. Apakah anak Anda bereaksi ketika namanya dipanggil?, 6. Apakah anak Anda mau melihat ke arah benda yang Anda tunjuk?, 7. Apakah anak Anda pernah bermain pura-pura, misalnya pura-pura menyuapi boneka, atau menerima telepon?” Untuk Noam, hampir semua pertanyaan, jawabannya adalah ‘tidak’.

Dengan penuh keingintahuan dan kepastian, kami mendatangi dua tempat terapi anak autis untuk melakukan assesment ke psikolog. Agar kami tahu kalau Noam berkembang dengan baik atau Noam perlu mendapatkan penanganan segera. Psikolog anak dan psikolog klinis yang kami datangi memvonis Noam autis.
Aku dan Noam

Wednesday, July 24, 2019

Pernikahan Dini Di Kaki Gunung


Pertengahan tahun ini setelah cuti hamil, aku bersama suami kembali mengajar ke Sokola Kaki Gunung. Kami juga membawa serta kedua anak kami ke kaki pegunungan Argopuro bagian Sumber Candik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Jember, tempat Sokola Kaki Gunung didirikan.

Bulan Juli artinya kenaikan kelas atau kelulusan bagi anak-anak yang sekolah di sekolah formal selain belajar bersama kami. Aku mendapati anak-anak yang lulus sekolah dasar sedang sibuk menyiapkan diri untuk melanjutkan ke pesantren. Sedang beberapa yang lain, memilih atau dipilihkan untuk bertunangan.

Sunday, July 14, 2019

Sekolah Favorit di Kaki Gunung

Bulan Juli di kota, anak-anak sibuk mempersiapkan diri untuk masuk di sekolah baru setelah ribut dengan sistem zonasi. Di sebuah kaki gunung pegunungan Argopuro wiayah Jember, tepatnya Jelbuk, Panduman, Sumber Candik, sedang musim ‘monduk’, mondok, sekolah pesantren. Yang tidak melanjutkan ke smp atau pesanteren, akan ada pilihan ‘bekalan’, bakalan, tunangan.
Hari Pertama Anak-anak Kaki Gunung Sekolah