Pages - Menu

Selasa, 13 September 2016

Teri Menempa Diri

"Jangan curhat ke mbak Rotan, nanti ditulis di blognya." Teri sering kali mengatakan kalimat ini ketika kami sedang bercanda dengan teman-teman yang lain.

Aku hanya tertawa dan mencubitnya saat Teri mengatakan demikian. Beberapa temanku memang pernah menjadi tokoh tulisan di blogku. Tapi aku tidak pernah menjelaskan kepada Teri bahwa menuliskan seseorang butuh waktu lama untuk memahami siapa yang akan aku tulis.
Setahun yang Lalu Saat Teri Baru Dilantik Menjadi Ketua Umum

Rabu, 24 Agustus 2016

MI Kaki Gunung

Pagi di Sumber Candik, Panduman selalu menawan. Matahari meremang dan terbit dari arah gunung Raung. Dari tempat berketinggian 776 mdpl ini, kita juga bisa melihat kota Jember yang sedang tertutup kabut. Menikmati wedang serai buatan bu In sembari membalas senyum ramah warga yang lalu-lalang pergi ke kebun. Yang paling menyenangkan, melihat anak-anak malu-malu menyapa kami ketika berpapasan dengan kami saat mereka berangkat sekolah.
Sunrise Sumber Candik

Dusun yang masuk kecamata Jelbuk ini hanya perlu ditempuh dengan waktu satu jam dari pusat kota. Medan yang menanjak dan berbatu yang membuat Sumber Candik cukup sulit di akses. Warga juga perlu melakukan perjalanan sulit untuk mendapat fasilitas seperti pendidikan. 

Ada dua sekolah terdekat dari Sumber Candik. MI An Nur di jalan Rembangan dusun Gading, desa Darsono, dan masuk kecamatan lain yaitu kecamatan Arjasa merupakan salah satu sekolah terdekat dari Sumber Candik.
Plang Sederhana MI An Nur

Jumat, 12 Agustus 2016

Bapakku Pak Tukang

Alarm kedua handphoneku berbunyi dua kali pada jam tiga dan empat dini hari. Aku terbangun dan kembali mematikan keduanya di kedua waktu. Aku benar-benar bangun jam setengah enam. Waktu yang terlalu siang jika saja aku berada di rumah. Bapakku akan membangunkanku setelah dia solat subuh jam setengah lima.

Aku terbangun dengan perasaan rindu bercampur rasa bersalah kepada bapak setelah bangun kesiangan. Setiap pagi bapak mengawali hari dengan mandi dan solat Subuh. Selepas itu, dia akan mencari kesibukan sebelum berangkat kerja. Pergi ke belakang rumah membersihkan kandang itik dan memberi mereka makan. Atau ke depan rumah untuk melihat kebun milik tetangga yang bapak rawat.

Bapak Menyiam Tanaman yang Baru Ditanamnya pada 22 Agustus 2015

Senin, 08 Agustus 2016

Sibuk Berbahagia

Sore yang cerah. Matahari yang bersiap terbenam menyirami sebuah kedai kopi di pinggir jalan daerah Tidar dengan cahaya hangatnya. Aku sedang sibuk berbahagia.

Aku tidak mempunyai alasan untuk meratapi diri sendiri, dan aku memang tidak memperbolehkan diriku seperti itu. Beruntunglah aku mendapatkan kesibukan untuk berbahagia. Aku masih menikmati euforia menjadi wisudawan dengan nilai dibawah memuaskan, aku sedang belajar bersama anak-anak kaki gunung Argopuro, hampir setiap hari aku jalan-jalan di tanjakan berbatu bersama kekasih, dan banyak lagi kesibukan di antara hujan di musim yang seharusnya kemarau tahun ini. 


Hi, hujan turun tiba-tiba pada cuaca cerah saat aku membicarakannya. Hujan yang berumur panjang.

Sabtu, 30 Juli 2016

Belajar Memaafkan dan Memaksa Diri dari Putri

Di pertengahan bulan yang akan berakhir ini aku pernah menulis status di twitter. Sedikit tulisan untuk menjelaskan fotoku bersama keponakanku, Putri. Aku belajar beberapa hal justru darinya.

"Orang dewasa harus belajar dari anak kecil untuk urusan mudah memaafkan." Twittku pada tanggal 14 Juli 2016.

Aku belajar tentang mudah memaafkan dari Putri. Bagaimana dia mudah sekali melupakan apa yang baru saja membuatnya sebal atau menangis. Mudah memaafkan hanya satu bagian dari yang Putri ajarkan kepadaku tanpa sepengetahuannya.

Putri saat ikut ke acara wisudaku 
Putri dilahirkan di Jombang, tempat asal ibunya, kakak iparku. Aku pernah tidak merasa dekat dengannya meskipun sudah sejak PAUD dia tinggal di rumahku bersama orangtuanya. Aku tidak peduli dengan kehadirannya, membiarkannya tumbuh sendiri, tidak menyukai kenakalannya yang memang khas anak kecil, bahkan aku sering memarahinya saat Putri manja kepada kakek-neneknya, orang tuaku.

Kini Putri sudah kelas dua SD. Dia sudah bisa mandi sendiri, mengambil popok adiknya yang baru akan menginjak selapan (36 hari), diminta beli ke warung kelontong dekat rumah, berangkat ke sekolah dengan sepeda mininya, dan banyak lagi yang dia bisa lakukan dengan tubuh mungilnya. Dia juga bisa mengajariku cara memaafkan.

"Ambil sendiri, jangan nyuruh terus!" Aku sering memarahinya seperti ini ketika dia meminta ibuku mengambilkan sesuatu yang bisa dia ambil sendiri.

Dengan kesal dia mengambil sendiri apa yang dia inginkan. Mendiamkanku sejenak, lalu kembali ke kamarku untuk bertanya ini itu seperti tidak pernah aku memarahinya. Aku masih mendongkol setelah memarahinya. Namun  saat dia melupakan apa yang baru saja terjadi, kadang aku merasa malu.
Putri akan memonyongkan bibirnya sudah sejak jarah jauh-jauh untuk menciumku

Pagi ini tiba-tiba aku merindukannya. Dia pasti sedang tiduran sembari menonton kartun hari Minggu, dengan bantal dan guling kecilnya yang dibawa kemana-mana saat dia ingin tidur di ruang tv atau kamar. Aku ingat, sebelum kelas satu dia juga membawa botol susu kosong seperti bantal dan guling yang dia bawa-bawa. 

Saat dia akan masuk SD, kakakku mengatakan bahwa terus membawa botol susu akan membuatnya malu jika teman-temannya melihat itu. Hanya anak kecil yang masih ngedot. Suatu siang aku melihatnya menangis karena tidak bisa tidur. Dia tidak bisa tidur tanpa botol susunya. Tapi Putri berusaha melupakan kebiasaan itu dengan tetap mencoba tidur. Putri belajar memaksa diri.

Dia harus terus belajar memaksa diri. Saat dia mempunyai adik sejak seminggu sebelum hari raya Idul Fitri, Putri tidak lagi bisa tidur bersama orangtuanya. Putri lagi-lagi tidak bisa tidur. Setiap hari dia tidur larut malam. Tanpa menangis dan mengeluh, dia tahu harus membiasakan tidur di kamar siapa saja. Putri memilih tidur di depan ruang tv ditemani orangtuaku, di ruang tamu dengan kasur lipat bersama ayahnya, atau kadang tidur di kamarku. Meski pasti dia merasakan tidak senyaman di kamarnya.

Putri mudah sekali belajar dan menyerap banyak hal. Kini masa-masanya bertanya banyak hal. Dia pernah bertanya apa itu materai, apa itu, apa ini, yang membuatku kualahan menjawab pertanyaannya. Dia sering mengatakan 'diajari mbak Pit' atau 'mbak Pit belum mengajariku'. Dia selalu memperhatikan apa yang aku kerjakan di rumah, lalu mengagumi apa saja yang menurutnya bagus. Padahal diam-diam aku yang belajar bagaimana  mudah memaafkan dan memaksa diri dari Putri. 

Senin, 25 Juli 2016

Pendekatan Psikologi; Lirik Lagu Wonderful Tonight

It's late in the evening, she's wondering what clothes to wear.
She puts on her make-up and brushes her long blonde hair.
And then she asks me, "Do I look all right?"
And I say, "Yes, you look wonderful tonight."
...

Ini penggalan lagu yang diciptakan Eric Clapton pada tahun liris 1977. Wonderful tonight menjadi salah satu judul lagu pada album Slowhand. Aku menyukai lirik lagunya yang dibuat rangkaian alur cerita dari awal persiapan berangkat ke pesta sampai kembali pulang. 
Sumber Foto: http://assets.kompasiana.com/statics/crawl/555dbb720423bdec1c8b456a.jpeg?t=o&v=700

Minggu, 24 Juli 2016

Tidak Ingin Berangkat Yudisium

Aku sedang tiduran berselimut tebal menahan rasa sakit perut yang mulai mereda sembari membuka komputer kecil setelah merenungkan sesuatu. Beberapa hari ini emosiku sedang tidak stabil, mungkin penyebabnya karena masa PMSku (Pre Menstruasi Syndrom). Hari Kamis kemarin saat gladi bersih untuk Yudisium hari Jumat, emosiku semakin memburuk. Gladi bersih membuatku tidak ingin berangkat Yudisium di fakultasku, Fakultas Sastra yang telah berganti Fakultas Ilmu Budaya.

Emosi yang tidak stabil, kehilangan mood, menangis tanpa sebab yang jelas atau marah-marah memang beberapa tanda datangnya masa PMS. Aku selalu menyadari jika kehilangan stabilitas emosiku, lalu mencoba sebisa mungkin mengatasi meski kadang gagal. Pagi saat gladi bersih aku gagal mengontrol emosi. Aku beberapa kali sebal kepada beberapa orang dan merasa tersakiti.
Gladi bersih Yudisium