Rabu, 24 Juli 2019

Pernikahan Dini Di Kaki Gunung


Pertengahan tahun ini setelah cuti hamil, aku bersama suami kembali mengajar ke Sokola Kaki Gunung. Kami juga membawa serta kedua anak kami ke kaki pegunungan Argopuro bagian Sumber Candik, Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Jember, tempat Sokola Kaki Gunung didirikan.

Bulan Juli artinya kenaikan kelas atau kelulusan bagi anak-anak yang sekolah di sekolah formal selain belajar bersama kami. Aku mendapati anak-anak yang lulus sekolah dasar sedang sibuk menyiapkan diri untuk melanjutkan ke pesantren. Sedang beberapa yang lain, memilih atau dipilihkan untuk bertunangan.

Minggu, 14 Juli 2019

Sekolah Favorit di Kaki Gunung

Bulan Juli di kota, anak-anak sibuk mempersiapkan diri untuk masuk di sekolah baru setelah ribut dengan sistem zonasi. Di sebuah kaki gunung pegunungan Argopuro wiayah Jember, tepatnya Jelbuk, Panduman, Sumber Candik, sedang musim ‘monduk’, mondok, sekolah pesantren. Yang tidak melanjutkan ke smp atau pesanteren, akan ada pilihan ‘bekalan’, bakalan, tunangan.
Hari Pertama Anak-anak Kaki Gunung Sekolah

Sabtu, 22 Juni 2019

Pertimbangan Sebelum Memakaikan Clodi Kepada Anak

Pertamakali memutuskan untuk tidak memakai popok sekali pakai (selanjutnya kita sebut pampers, seperti kita sebut deterjen rinso dan sepeda motor honda) tentu pertimbangannya lingkungan. Kami tidak ingin ikut andil menambahnya tumpukan sampah pampers di TPA atau kotornya sungai sebab pampers yang tak kunjung terurai. Harusnya lebih banyak pertimbangan, karena kita makhluk sosial (kata-kata klasik yang mulai tergerus maknanya) yang hidup dengan manusia lain.

Kalau ada ibu-ibu yang memakaikan pampers kepada anaknya, pikiranku langsung keruh. Aku terbayang sampah pampers mengambang di sungai-sungai. Kalau bukan pikiran itu yang datang, pikiran lainnya muncul, pasti ibu itu tinggal lempar tanggung jawab kepada pak tukang sampah yang mengangkut sampahnya setiap hari. Kenapa aku tidak berpikir mereka akan mengubur sampah mereka di tanah? Karena itu hal yang ribet, lebih ribet dari mencuci clodi, yang jarang terfikirkan orang-orang yang memakaikan pampers kepada anaknya. Ada yang lebih ribet lagi, membongkar pampers yang sudah dipakai untuk dicampur dengan bahan lain membuat pupuk organik. Kecuali bapakku yang mau ribet, yang menguburkan pampers keponakan-keponakanku yang tidak mungkin dibuang ke sungai karena ada PERDES Semboro dimana pembuang sampah di sungai didenda dan pengadu mendapat setengah uang denda, yang tidak mungkin dibakar karena ada mitos jika membakar kotoran bayi menyebabkan perut bayi sakit, dan tidak mungkin melimpahkan tanggungjawab kepada tukang sampah karena di desa semua sampah tanggungjawab masing-masing.

Tapi pikiranku tidak seburuk itu juga kok. Aku yakin semua orang mempunyai pertimbangan mereka sendiri.

Aku dan suami sepakat bahwa kami tidak akan memakaikan pampers kepada anak-anak kami, sekali lagi karena pertimbangan lingkungan. Kami memakaikan clodi (cloud diaper/ pampers kain yang bisa dicuci). Kami menganggap clodi salah satu jawaban kegelisahan kami ketika mempunyai anak dan takut ikut andil menambah sampah pampers yang bisa sampai empat ratus tahun lebih baru terurai.  

Ini terlihat seperti pertimbangan yang idealis, padahal hanya mempertimbangkan satu sisi saja itu sangat tidak ideal untuk dilakukan. Ada orang-orang yang ingin menggendong anak kita tanpa perlu terkena buang airnya. Ada orang-orang yang kami kunjungi tanpa ingin rumahnya terkena bau pesing anak kita. Apakah clodi tidak bisa menjawab kegelisahan ini?

Clodi terbuat dari kain yang nyaman untuk bayi. Tapi yang namanya kain, pasti ada celah untuk bocor. Bocornya clodi biasanya karena bahan yang kurang bagus atau perawatannya yang kurang hati-hati. Clodi yang kotor harus langsung dicuci, tidak boleh pakai detergen mengandung pemutih dan pelembut, insert yang tebal tidak boleh dijemur matahari langsung, posisi menjemur yang benar disarankan agar karet bagian paha tidak menjadi bagian yang tertekuk, tidak masuk cuci kering pada mesin cuci, dan aturan ketat lainnya agar clodi awet tidak bocor. Clodi bisa menjawab kegelisahanku ketika anak-anak digendong orang lain atau mengajak anak-anak jalan-jalan, ketika clodi masih kondisi bagus/ tidak bocor dan stok clodi yang kering masih banyak.

“Anakku tidak pakai pampers.” Begitu kataku kalau ada yang ingin menggendong dan ketika itu persediaan clodi kering anak-anak habis. Jadi orang-orang yang tidak ingin terkena ompol atau pup, bisa segera mengembalikan kepadaku. Begitulah caraku membuat orang-orang sekitar kami menerima bahwa kami tidak memakai pampers. Ini keberuntungan kami yang tidak kami pertimbangkan, ada di sekitar orang-orang yang menerima bahwa mereka bisa kapan saja terkena ompol atau pup anak-anak kami.

Selain pertimbangan sosial, pertimbangan ekonomi juga tidak pernah terfikirkan. Clodi yang harganya jauh dari pampers pasti banyak menganggap ini mahal. Padahal jika orang bisa berfikir untuk jangka panjang, clodi bisa bertahan minimal setahun dengan perawatan yang buruk. Bayangkan jika perawatannya dimaksimalkan?

Jadi begitulah kami tetap bertahan memakaikan clodi kepada anak-anak kami. Tanpa banyak tapi, tanpa banyak pertimbangan. Karena banyak pertimbangan bisa jadi bimbang, misi tidak akan jalan. 

Rabu, 29 Mei 2019

Susu Untuk Noam Yang Alergi

Noam asi eksklusif selama enam bulan. Selama itu pula aku aman dari kehamilan lagi meski tidak kb. Saat Noam mulai mpasi, aku hamil lagi. Kami senang, tapi mulai khawatir ketika asiku berkurang.


Selasa, 28 Mei 2019

Kehamilan Anak Pertama Boleh Lebay

Aku berhenti menstruasi pada bulan ke dua setelah acara pernikahanku. Aku senang sekali, tapi ada rasa bingung kenapa bisa secepat ini. Untuk menjaga kandunganku, aku dan suami membaca banyak artikel.


Sabtu, 23 Maret 2019

Mencoba Candaan Generasi Milenial, Prank Text


Kalau mendengar kata generasi milenial disebut, pikiranku langsung menuju pada para remaja yang gemar dengan gadget dan akrab dengan media sosial. Apa kamu sepakat dengan pemikiranku? Kalau ya, artinya itu kesepakatan yang sepertinya salah, meskipun tidak mutlak. Setelah membaca beberapa artikel, singkatnya tentang anak milenial yaitu orang-orang kelahiran rentang tahun 1980 sampai tahun 2000 an. Tahun-tahun dimana gawai mulai familiar. Jadi aku yang kelahiran 1991, termasuk generasi anak milenial. Juga bahkan kamu yang sudah berumur 30 an, yang suka menyebut para remaja dengan sebutan generasi milenial, ingat, kamu termasuk.

Dengan mudahnya mengakses media sosial, kini banyak sekali konten-konten yang dipamerkan di media sosial. Salah satunya yang sedang digemari adalah prank, bahasa Inggris dari candaan. Pasti kamu juga sudah tidak asing dengan bahasa asing yang satu ini. Dari banyak bentuk prank, sembari cuci baju, menyuapi Noam, nenenin Bing, dengan iseng aku beberapa hari yang lalu ingin mencoba prank text. Candaan yang menggunakan lirik lagu untuk menggoda temanmu lewat chatting. Caranya prank text kurang lebih seperti ini, mengirim potongan-potongan kalimat atau bait dari salah satu lirik lagu penyanyi sampai temanmu menanggapi dengan kebingungannya. Apa saja balasan temanmu, kamu tetap meneruskan kalimat dari lirik lagu tersebut. Semakin temanmu terbawa perasaan, prank text mu berhasil.  

Senin, 11 Maret 2019

Mengajar Itu Sulit, Tapi Menyenangkan

“Dulu aku ingin menjadi penulis seperti kalian. Tapi setiap berdoa, aku selalu berdoa agar menjadi orang yang bermanfaat. Sampai setiap aku menulis, aku juga memikirkan apakah tulisanku ini bermanfaat. Lalu setelah lulus kuliah, kak Butet, salah satu pendiri Sokola memintaku membantu Sokola Kaki Gunung. Aku langsung mengiyakannya tanpa pikir panjang. Mungkin itu jalan dari doaku.” Jawabku saat volunteer Sokola Kaki Gunung (SKG) diundang di diskusi mahasiswa pers di salah satu universitas di Jember, dan ada peserta diskusi yang bertanya kepada kami, apa motivasi kami mengajar.