Sabtu, 23 Maret 2019

Mencoba Candaan Generasi Milenial, Prank Text


Kalau mendengar kata generasi milenial disebut, pikiranku langsung menuju pada para remaja yang gemar dengan gadget dan akrab dengan media sosial. Apa kamu sepakat dengan pemikiranku? Kalau ya, artinya itu kesepakatan yang sepertinya salah, meskipun tidak mutlak. Setelah membaca beberapa artikel, singkatnya tentang anak milenial yaitu orang-orang kelahiran rentang tahun 1980 sampai tahun 2000 an. Tahun-tahun dimana gawai mulai familiar. Jadi aku yang kelahiran 1991, termasuk generasi anak milenial. Juga bahkan kamu yang sudah berumur 30 an, yang suka menyebut para remaja dengan sebutan generasi milenial, ingat, kamu termasuk.

Dengan mudahnya mengakses media sosial, kini banyak sekali konten-konten yang dipamerkan di media sosial. Salah satunya yang sedang digemari adalah prank, bahasa Inggris dari candaan. Pasti kamu juga sudah tidak asing dengan bahasa asing yang satu ini. Dari banyak bentuk prank, sembari cuci baju, menyuapi Noam, nenenin Bing, dengan iseng aku beberapa hari yang lalu ingin mencoba prank text. Candaan yang menggunakan lirik lagu untuk menggoda temanmu lewat chatting. Caranya prank text kurang lebih seperti ini, mengirim potongan-potongan kalimat atau bait dari salah satu lirik lagu penyanyi sampai temanmu menanggapi dengan kebingungannya. Apa saja balasan temanmu, kamu tetap meneruskan kalimat dari lirik lagu tersebut. Semakin temanmu terbawa perasaan, prank text mu berhasil.  

Senin, 11 Maret 2019

Mengajar Itu Sulit, Tapi Menyenangkan

“Dulu aku ingin menjadi penulis seperti kalian. Tapi setiap berdoa, aku selalu berdoa agar menjadi orang yang bermanfaat. Sampai setiap aku menulis, aku juga memikirkan apakah tulisanku ini bermanfaat. Lalu setelah lulus kuliah, kak Butet, salah satu pendiri Sokola memintaku membantu Sokola Kaki Gunung. Aku langsung mengiyakannya tanpa pikir panjang. Mungkin itu jalan dari doaku.” Jawabku saat volunteer Sokola Kaki Gunung (SKG) diundang di diskusi mahasiswa pers di salah satu universitas di Jember, dan ada peserta diskusi yang bertanya kepada kami, apa motivasi kami mengajar.
 

Kamis, 07 Maret 2019

Lebih Mengencangkan Ikatan Stagen

Paska melahirkan, ibuku meminta agar aku istirahat penuh. Aku tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah apalagi mengangkat berat. Ibu juga mewajibkanku memakai stagen agar perutku tidak besar, agar kembali seperti sebelum melahirkan.

Aku taat memakai stagen. Perut setelah melahirkan begitu kendor sehingga rentan goyang. Goyangan itu yang membuat perut sakit. Stagen yang terlilit diperut akan mengikat perut dan membuatnya tidak goyang. Perutku aman dengan stagen. Ya, aku setuju menggunakan stagen atau centhing dalam bahasa Jawa, gurita dewasa, atau korset paska melahirkan.

Selasa, 05 Maret 2019

Candu Orangtua Memberikan Hp Pada Anak

"Blow your ballon up blow, blow, blow..." Begitu yang terdengar dari hpku yang sedang ditonton Noam dengan asik.

Pemberian hp awalnya untuk membuat Noam senang dengan melihatkan lagu-lagu anak. Ketika Noam mempunyai adik, memberikan hp pada Noam sudah berbeda tujuan. Agar aku tidak kualahan menemani Noam yang sedang senang berjalan ketika adiknya, Bing, bangun atau agar aku bisa mengerjakan pekerjaan rumah ketika Bing masih tidur.

Minggu, 03 Maret 2019

Pola Pengasuhan Orangtua Vs Nenek

Seminggu lebih sudah aku menempati rumah kontrakan membawa anakku yang baru lahir. Tiga minggu yang lalu, aku melahirkan anak ke duaku di rumah orangtuaku. Aku dan suamiku pikir kami akan kesulitan jika melahirkan di rumah kontrakan tanpa ada yang bantu-bantu di rumah. Jika di rumah orangtua, akan ada yang membantu memasak, mencuci, dan menjaga anakku ketika aku masih belum pulih setelah melahirkan. Tapi justru adalah masalah lain, seperti ketika aku melhirkan anak pertama. Pola asuh kami dengan orangtuaku yang sering kali berbeda. Untuk menghindari pertengkaran yang lebih banyak, kami memutuskan tinggal dikontrakan.

Menahan Pipis

Waktu aku kecil, ibuku sering melarangku menahan buang air kecil, menahan pipis. Ibu bilang nanti bisa batu ginjal. Ibuku mungkin memang benar, terlalu lama dan sering menahan pipis bisa mengganggu ginjal. Tapi dalam banyak alasan aku sering menahan pipis, tentu bukan karena aku pembangkang meski aku sering memberontak dari nasehat-nasehat ibuku. Untuk yang satu ini, tidak ada urusannya dengan pemberontakan itu.

Aku bisa menahan pipis berjam-jam. Seperti saat dalam kendaraan yang tidak tersedia toilet, mau turun waktu diterminal takut tertinggal. Setelah tidak lagi sering melakukan perjalanan, padahal diam manis di rumah, alasan menahan pipis karena anak tidak bisa ditinggal. Ada yang lebih penting dari pada segera ke kamar kecil, selagi masih bisa ditahan. 

Sebenarnya ini bukan masalah pipis, sih. Ini bagaimana kita harus menahan sesuatu dari pada segera mengeluarkannya. Seperti omongan.

Sabtu, 02 Maret 2019

Dua Anak Cukup, Cukup Untuk Menelantarkan Hobi

Hujan baru saja reda mengguyur rumah kontrakan di jalan Kelud ketika anak-anak tertidur dan aku ingin menulis untuk mengisi waktu luang. Noam, anakku yang pertama, yang berusia enam belas bulan dua hari ini tidur menjelang Magrib. Bing, anakku yang baru lahir tiga minggu selalu tidur nyenyak dalam bedongan setelah mandi sore.